Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai ajang swasembada ketahanan pangan skala rumah tangga
Judul : | Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai ajang swasembada ketahanan pangan skala rumah tangga | |
Tanggal Penulisan: | 12 April 2022 | |
Penulis : | Asrifah |
Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai ajang swasembada ketahanan pangan skala rumah tangga
Dalam ketatanan pemerintahan pada sektor pertanian, pemerintah memiliki instansi yang khusus menangani perihal pertanian, baik pertanian skala luas maupun pertanian secara sempit/ lahan pekarangan. Pengelolaan sektor pertanian diwilayah Purbalingga dikelola oleh instansi Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga atau biasa disebut dengan Dinpertan. Lembaga Dinpertan tersebut membawahi kantor BPP (Balai Penyuluh Pertanian) dan kantor UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah). Perlu diketahui bahwa peran BPP (Balai Penyuluh Pertanian) dan UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah) yaitu mengkoordinasi, merencanakan dan melaksanakan program-program penyuluhan pertanian dalam hal informasi, teknologi, sarana produksi, pembiayaan, pasar, peningkatan tenaga penyuluh dan kelembagaan serta kemitraan pelaku usaha, membuat percontohan atau biasa disebut dengan demplot dan model usaha tani sesuai dengan peraturan perundang-undangan kementan pusat. Purbalingga merupakan sebuah kabupaten yang berada didaerah provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Purbalingga merupakan kabupaten yang memiliki 18 kecamatan, 15 kelurahan, dan 224 desa dengan luas wilayah 677,55 km² ini banyak program kegiatan telah diluncurkan oleh pemerintah sebagai upaya agar kegiatan pertanian tetap bisa berjalan. Pengadegan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Purbalingga. Kecamatan Pengadegan merupakan salah satu kecamatan yang ikut menyokong kegiatan pertanian yang berada dibawah naungan Dinpertan Kabupaten Purbalingga. Sasaran berbagai program kegiatan tersebut tidak hanya kepada Kelompok Tani (poktan) namun juga Kelompok Wanita Tani (KWT). Kelompok Wanita Tani atau yang sering disebut KWT merupakan salah satu bentuk kelompok tani yang anggotanya terdiri dari para wanita yang berkecimpung dalam kegiatan pertanian, yang dalam pelaksanaan kegiatannya diarahkan kepada pemberdayaan usaha pertanian skala rumah tangga agar dapat menambah penghasilan keluarga. Kelompok tani merupakan kumpulan petani/peternak/pekebunan yang dibentuk atas dasar kesamaan kondisi lingkungan dan keakraban untuk peningkatan pengembangan usaha. Salah satu bentuk perhatian pemerintah pada masa pandemi ini yaitu dengan pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui bimbingan pemanfaatan agensia hayati yang dilaksanakan pada beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT).
Gambar 1. Lokasi pekarangan Kelompok Wanita Tani “Sri Rejeki” Desa Pengadegan, Kec. Pengadegan, Kab. Purbalingga. | Gambar 2. Kondisi saat pertemuan KWT “Sri Rejeki” Desa Pengadegan, Kec. Pengadegan, Kab. Purbalingga. |
Pada hari Jum’at, 25 Februari 2022 saya beserta teman-teman magang Universitas Perwira Purbalingga yang didampingi oleh Ibu Sri Haryanti berkesempatan mengunjungi kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) “Sri Rejeki” yang berlokasi Di Desa Pengadegan,Kecamatan Pengadegan, Jawa Tengah. Kami menuju kelokasi KWT tersebut didampingi oleh Ibu Sri Haryanti selaku koordinator PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) pada kantor BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Pengadegan. Kegiatan pertemuan tersebut dengan tujuan untuk penyuluhan pertanian ke masyarakat desa khususnya para wanita atau ibu-ibu rumah tangga untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan untuk pertanian skala kecil sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat khususnya para wanita serta penambahan pemasukan ekonomi dengan hasil penjualan produk pertanian.
Pada pertemuan KWT saat itu, Ibu Sri menjelaskan bahwa sementara ini kegiatan KWT difokuskan kepada pengembangan tanaman hortikultura seperti cabai, sawi, terong dan aneka hortikultura lainnya karena selain umur panen yang singkat, komoditi tanaman ini juga sangat menjanjikan bila dihitung dari segi ekonominya. Adapun topik pembahasan lain yang dibahas dalam pertemuan tersebut antara lain mengenai jenis tanaman yang berpotensi menghasilkan hasil pertanian yang baik secara kualitas maupun kuantitas, pelaporan dari salah satu anggota KWT bahwa hasil tanaman kedelai pada KWT tersebut hasilnya kurang baik dikarenakan lahan yang dipakai tidak cocok untuk penanaman kedelai, maka dari itu perlu adanya evaluasi untuk perbaikan proses budidaya tanaman selanjutnya. Evaluasi tersebut diterapkan dengan penggantian jenis tanaman yang akan ditanam pada fase tanam yang akan datang. Jenis tanaman yang disepakati bersama kelompok KWT “Sri Rejeki” yaitu tanaman terong dan cabai rawit, hal ini karena masa panen cenderung singkat dan minim resiko gagal panen.
Kelompok Wanita Tani “Sri Rejeki” beranggotakan 30 orang, namun yang aktif dalam setiap kegiatan hanya berkisar 25 orang saja. Keaktifan anggota dipengaruhi oleh kegiatan rutinitas yang dimiliki oleh setiap individu anggota kelompok tersebut. Namun meskipun keaktifan anggota hanya sekitar 25 orang, hasil kegiatan KWT cukup berjalan dan berkembang, dengan bukti pernyataan dari salah satu anggota yang mengatakan “Kami cukup senang dengan adanya kegiatan KWT ini, karena dengan adanya kegiatan ini kami menjadi lebih produktif dan memiliki kegiatan selingan selain hanya mengurus rumah tangga”, ujar Ibu Kusmiati selaku anggota KWT Sri Rejeki. Selain itu, Ibu Astuti juga berpendapat bahwa “Pendapatan yang dihasilkan dari hasil panen produk pertanian KWT lumayan untuk menambah kas pemasukan kelompok yang digunakan untuk anggaran kegiatan kemasyarakatan skala kecil, serta cukup efisien membantu mengurangi pengeluaran belanja kebutuhan dapur ibu rumah tangga”, ujarnya.
Selain berfokus pada kegiatan bercocok tanam tanaman dipekarangan rumah, dalam kelompok tani “Sri Rejeki” juga mengadakan kegiatan arisan yang diikuti ibu-ibu anggota kelompok. Hal yang menarik dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana ramai riuhnya canda tawa yang tercipta antar anggota kelompok. Tak jarang pula ada diantara ibu-ibu tersebut ada yang membawa anaknya yang masih kecil, hal itu menjadikan pertemuan menjadi lebih meriah. Dalam setiap pertemuan para anggota saling bertukar pendapat atas program yang dilaksanakan bersama. Satu sama lain saling beradu pendapat yang kemudian dimusyawarahkan dan disepakati bersama oleh semua anggota kelompok. Adanya PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dalam KWT guna berperan sebagai koordinator atau penyuluh yang mengarahkan ilmu pertanian yang dimiliki untuk diterapkan kepada para anggota, dengan harapan proses pertanian berjalan terstruktur dan terarah serta hasil produk pertanian mendapatkan hasil yang baik.
Kerja sama yang kompak benar-benar terlihat di Kelompok Wanita Tani “Sri Rejeki” Pengadegan. Kebersamaan penyuluh, kelompok tani, gapoktan, dan perangkat desa/kecamatan cukup mantap karena dilandasi oleh keterbukaan dan kepercayaan. Sebelum menggalang dana swadaya, musyawarah antar anggota dan penyuluh diselenggarakan lebih dahulu. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) disusun, lalu diajukan dalam musyawarah bersama kelompok tani. Setelah dana swadaya dihimpun dan dibelanjakan, BPP Pengadegan menunjukkan laporan pertanggungjawaban beserta bukti fasilitas baru yang dimiliki. Keterbukaan ini membangkitkan kepercayaan para petani untuk terus mendukung program pertanian pemerintah dengan dipandu oleh BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Kecamatan Pengadegan.
Gambar 3. Penanaman bibit tanaman di Kelompok Wanita Tani (KWT) “Sekar Arum” Desa Karang Joho, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga. | |
Berkaitan dengan KWT (Kelompok Wanita Tani), kami pada hari Jum’at 4 Maret 2022 Tim PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) bersama kami Mahasiswa magang prodi Agribisnis Universitas Perwira Purbalingga juga melakukan kunjungan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) “Sekar Arum” berlokasi Di Desa Karang Joho, Kecamatan Pengadegan. Anggota kelompok Tani “Sekaer Arum” ini merupakan gabungan antara anggota KWT dengan anggota PKK Desa Karang Joho. Dalam kunjungan tersebut, Amala Nafi’adini selaku PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) melakukan pengarahan dan penjelasan mengenai kegiatan bercocok tanam tanaman yang baik dan benar kepada para anggota KWT sehingga diharapkan dapat menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan jumlah kuantitas hasilnya melimpah. Dalam kegiatan tersebut dikenalkan kepada anggota kelompok beberapa agens hayati yang dapat membantu mengendalikan serangan OPT hortikultura seperti trichoderma, metharizium dan beauveria bassiana. Dalam kegiatan tersebut para anggota KWT juga diajari kapan dan bagaimana caranya mengaplikasikan agens hayati tersebut pada tanaman skala pekarangan rumah. Kegiatan ini sangat diminati oleh kelompok wanita tani karena para ibu rumah tangga menyadari sayuran organik baik untuk kesehatan keluarga dan juga penyediaan benih dan bibit sayuran organik berpotensi untuk menambah pendapatan kelompok.
Keunikan yang menonjol dari KWT “Sekar Arum” yaitu mereka cenderung kompak dalam melaksanakan kegiatan KWT,terbukti dengan pemakaian baju kaos yang sama serta kegiatan perkumpulan anggota yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 18 setiap bulannya. Keunikan lain yaitu cara penanaman pada lahan pertanian dengan model tanam tumpang sari, yang mana sistem penanaman berbagai jenis bibit tanaman di tanam dalam satu lahan. Penanaman sengaja dilakukan dengan sistem tumpang sari dengan tujuan agar setiap periode pemanenan dapat dilakukan dengan waktu yang berbeda, ada tanaman yang ditanam dengan periode panen singkat per minggu seperti tanaman kacang panjang dan cabai rawit, ada penanaman dengan periode panen per bulan seperti tanaman kangkung dan bayam, dan tanaman dengan periode panen per 6 bulan sekali seperti jahe dan kencur. Untuk tanaman kangkung waktu panennya kurang lebih selama 3 minggu dari penanaman biji. Ditambah lagi, kangkung dapat ditanam di lahan sempit dengan cara budidaya hidroponik dan dapat ditanam dilahan yang sempit sehingga cocok untuk mengisi kegiatan KWT yang notabennya pertanian dilahan pekarangan rumah. Mengingat potensi sumberdaya alam yang sangat mendukung, maka pemerintah desa Pengadegan melalui BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Pengadegan terus berupaya memfasilitasi dan membentuk kelembagaan organisasi petani untuk mengembangkan sumber daya alam yang ada.
Sejumlah kelompok dan organisasi petani telah dikukuhkan keberadaannya untuk mengembangkan potensi yang ada. Bidang usaha tani atau kegiatan yang dikembangkan kelompok tani sangat beragam, yaitu mulai dari kelompok tani yang bergerak pada usaha tani padi sawah, hortikultura sayuran, palawija, dan pemeliharaan ternak termasuk usaha kerajinan dan produksi rumah tangga yang dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani. Kelompok tani yang telah terbentuk, dari segi manajemen usaha kelompok tani tersebut sudah berjalan dengan baik karena anggota kelompok merasa ada dampak positif dengan keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT). Potensi SDM (Sumber Daya Manusia) terbentuk dengan adanya kelompok-kelompok tani dengan asas semangat gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan tradisi masyarakat lokal. Akan tetapi semua potensi yang ada baik SDA (Sumber Daya Alam) maupun SDM (Sumber Daya Manusia) belum dimanfaatkan secara optimal sehingga diperlukannya pemantauan dan evaluasi mengenai kegiatan di Kelompok Wanita Tani. Menurut salah satu anggota KWT “Sekar Arum” mengaku senang adanya kegiatan KWT ini karena dapat mengisi waktu luang para wanita yang statusnya rata-rata seorang ibu rumah tangga menjadi lebih produktif. Mereka berharap pemerintah melalui Balai Penyluh Pertanian (BPP) dan PKK kecamatan desa masing-masing dapat terus membimbing dan memberikan ilmu pertanian kepada masyarakat secara lebih luas.
Dari kegiatan 2 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang telah dibahas tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberdayaan masyarakat khususnya wanita pada usaha kegiatan pertanian khusus untuk para wanita terbukti memang benar ada, hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) didaerah Pengadegan, kelompok-kelompok tersebut dibawah bimbingan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Pengadegan. Kegiatan KWT diwilayah Pengadegan cukup berjalan efektif. Banyaknya bantuan benih tanaman dan sarana produksi yang diberikan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan semangat masyarakat khususnya para wanita untuk dapat meningkatkan potensi pertanian yang lebih baik dan berkembang.

.jpeg)
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar